SEJARAH KYOKUSHIN ACADEMY

 

 

 

                                                                                                         Pendiri Kyokushin Academy Indonesia

 

SEJARAH SINGKAT KYOKUSHIN ACADEMY INDONESIA

 

KYOKUSHIN ACADEMY INDONESIA adalah sebuah perguruan beladiri Kyokushin yang berpusat di Surabaya Jawa Timur berada dibawah naungan Yayasan Kyokushin Indonesia yang berdiri di Surabaya-Jawa Timur pada tanggal 27 Desember 2006, melalui Akte Notaris Gunawan Wibisono,SH. No 15/2006.

 

Bermula Sensei Freddy Joelianto yang pernah berlatih di PMK Kyokushinkaikan Indonesia pimpinan Shihan Nardi T. Nirwanto, pada akhir tahun 1960-an dan menjadi pelatih di PMK Kyokushinkaikan Indonesia, lalu mengundurkan diri pada tahun 1979 dan bergabung dengan Indonesia Karate-do Kyokushinkai (IKK) pimpinan Sensei JB. Sujoto pada tahun 1982. Menjadi Ketua Dewan Guru IKK Jawa Timur, dan berhasil mengkader murid-muridnya yang kemudian menjadi pilar IKK Jawa Timur.

 

Tahun 1992 Sensei Freddy Joelianto mengundurkan diri dari Indonesia Karate-do Kyokushinkai (IKK) pimpinan Sensei JB. Sujoto. Beliau menyampaikan kepada para muridnya bahwa beliau berkeinginan untuk mendirikan sebuah perguruan Kyokushin baru yang lebih moderat dan militant. Para kader utama Sensei Freddy Joelianto yang masih aktif menjadi pengurus dan pelatih IKK Jawa Timur antara lain Sensei Agus Prihanto Sensei Rudie CB, Sensei Ferry Kristiawan, dan beberapa murid Sensei Freddy Joelianto lainnya menanggapi positif keinginan Sensei Freddy Joelianto tersebut, dan kemudian secara intens mengadakan pertemuan dan koordinasi untuk dapat segera mewujudkan keinginan Sensei Freddy Joelianto tersebut.

 

1995 Sensei Agus Prihanto, Sensei Rudie CB. dan Sensei Ferry Kristiawan, secara resmi mengundurkan diri dari perguruan Indonesia Karate-do Kyokushinkaikan (IKK) pimpinan Sensei JB. Sujoto.

 

1996 Sensei Rudie CB, Sensei Ferry Kristiawan dan Sensei Agus Prihanto kemudian mendirikan Yayasan Perguruan Beladiri Kyokushinkaikan Indonesia. Mereka memohon kesediaan Sensei Freddy Joelianto untuk bergabung memperkuat Yayasan Perguruan Beladiri Kyokushinkai Indonesia dan duduk sebagai Ketua Dewan Guru. Namun setelah melakukan diskusi dan negosiasi yang panjang ternyata masih ada beberapa hal prinsip yang belum mencapai kata sepakat, sehingga Sensei Freddy Joelianto belum bersedia bergabung dengan Yayasan Perguruan Beladiri Kyokushinkai Indonesia.

 

2006, Agustus Sensei Agus Prihanto mengundurkan diri dari Yayasan Perguruan Beladiri Kyokushinkaikan Indonesia pimpinan Sensei Rudie CB. dan Sensei Ferry Kristiawan.

 

Sensei Agus Prihanto kemudian bertukar pikiran dengan Sensei Freddy Joelianto dan menyatakan niat dan keinginannya untuk mendirikan sebuah perguruan Kyokushin yang baru. Sensei Freddy Joelianto menyetujui, mendukung dan merestui keinginan Sensei Agus Prihanto tersebut, namun beliau menetapkan satu syarat yaitu harus tetap menjaga tali persaudaraan dan silaturahmi serta menghindari perselisihan dan dan pertikaian dengan sesama murid Sensei Freddy Joelianto lainnya dan Perguruan Kyokushinkai lainnya. Sensei Agus Prihanto menyetujui syarat tersebut, ia segera menjalin komunikasi, koordinasi dan kolaborasi dengan seluruh murid dan kader Sensei Freddy Joelianto.

 

2006, 27 Desember setelah mendapat restu dan dukungan dari Sensei Freddy Joelianto, Sensei Agus Prihanto dan Sensei Budi Utomo,SE didukung murid-murid Sensei Freddy Joelianto lainnya mendirikan Yayasan Kyokushin Indonesia yang diketuai oleh Sensei Budi Utomo,SE.

 

Yayasan Kyokushin Indonesia ini kemudian membentuk Kyokushin Academy Indonesia dan mengangkat Sihan Agus Prihanto sebagai Direkturnya.

 

SEJARAH PERJALANAN SENSEI FREDDY JOELIANTO

 

Freddy Joelianto lahir di Surabaya pada tanggal 14 Juli 1949, ayah berdarah Jawa dan ibu berdarah Manado, Freddy Joelianto adalah putra bungsu dari 4 bersaudara 2 perempuan dan 2 laki-laki. Di masa kecilnya Freddy tumbuh menjadi anak yang sehat dan enerjik, tubuhnya bongsor sehingga tampak lebih besar dibanding anak-anak sebayanya.

 

Freddy muda sangat menyukai olahraga seperti sepakbola, volly dan lain-lain, tak heran ia terpilih menjadi anggota team sepak bola dan bola volly SMA nya, sehingga fisiknya berkembang maksimal. Ia tumbuh menjadi remaja rupawan dengan tubuh atletis.

 

Tahun 1967 menyelesaikan SMAnya di Surabaya, melanjutkan pendidikan dan memasuki sebuah Perguruan Tinggi di kota Malang, mengikuti kakak laki-lakinya yang lebih dulu kuliah di kota itu.

 

Tahun 1968 Freddy mulai berlatih Karate mengikuti kakaknya yang lebih dahulu berlatih Karate di sebuah do-jo PMK Kyokushinkai di Malang. Karena minat dan disipilinnya tinggi serta memiliki bakat yang besar maka Freddy lebih menonjol dibandingkan anggota lainnya.

 

Ketika Freddy mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat di do-jo pusat di Batu (+15 kilometer dari kota Malang), penguasaan teknik Karate Freddy menarik perhatian Sensei Nardi T.Nirwanto, pendiri PMK Kyokushinkai, akhirnya Freddy diminta berlatih di do-jo pusat di Batu. Sejak itu Freddy berlatih intensif dibawah bimbingan Sensei Nardi, sehingga Freddy mengalami kemajuan sangat pesat dalam penguasaan teknik Karate Kyokushin. Beberapa waktu kemudian Freddy ditunjuk sebagai pelatih di do-jo Pusat PMK Kyokushinkai di Batu, membantu Sensei Nardi.

 

Tahun 1971 setelah merasa cukup menempa diri dan menimba ilmu di do-jo Pusat PMK Kyokushinkai di Batu, Freddy memutuskan kembali ke Surabaya untuk mengembangkan PMK Kyokushinkai Cabang Surabaya. Dibawah Freddy Joelianto, PMK Kyokushinkai Cabang Surabaya berkembang pesat bahkan jumlah anggotanya merupakan terbesar dari seluruh cabang PMK Kyokushinkai di Indonesia.

 

Freddy Joelianto dikenal sebagai pelatih yang kharismatik, tegas dan menerapkan disiplin sangat ketat hampir tanpa kompromi, bukan itu saja Freddy juga sangat kreatif dan piawai dalam melatih, sehingga Freddy mampu mencetak banyak atlet Kyokushin dengan disiplin dan penguasaan teknik tinggi, kemampuan fisik prima. Tidak mengherankan jika atlet-atlet PMK Kyokushinkai cabang Surabaya anak didik Freddy selalu mampu mendominasi setiap kejuaraan Karate Kyokushinkai tingkat nasional pada waktu itu.

 

Tahun 1973 Freddy meraih tingkatan Dan I PMK Kyokushinkai, Freddy merupakan angkatan ke 2 penyandang Dan Kyokushin Karate di Indonesia didikan Sensei Nardi.

Tahun 1977 Freddy Jelianto mendapat promosi kenaikan tingkat menjadi Dan II (no Ijazah:1/1977 tanggal 6 Maret 1977), berhak menyandang gelar Sensei. Tak lama kemudian Sensei Freddy Joelianto diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat Teknik PMK Kyokushinkai oleh Sensei Nardi T. Nirwanto.

 

Tahun 1979 Sensei Freddy Joelianto mengundurkan diri dari PMK Kyokushinkai, karena mendapat pekerjaan di Kalimantan.

 

Tahun 1982 Sensei Freddy Joelianto dihubungi oleh JB. Sujoto seniornya yang telah memisahkan diri dari PMK Kyokushinkai dan mendirikan perguruan baru dengan nama Indonesia Karate-do Kyokushinkaikan (IKK), JB. Sujoto mengajak Sensei Freddy bergabung untuk memperkuat dan membangun IKK.

 

Sensei Freddy Joelianto akhirnya setuju bergabung dengan IKK dibawah pimpinan Sensei JB. Sujoto. Sensei Freddy diangkat menjadi Wakil Ketua Dewan Guru IKK Pusat (wakil Sensei JB. Sujoto) merangkap sebagai Ketua Dewan Guru sekaligus Ketua Pengda IKK Jawa Timur.

 

Pengda IKK Jawa Timur mula-mula hanya terdiri dari cabang Kediri dibawah Sensei Sukarno Djunaedi dan cabang Madiun dibawah Sensei Sutanto WK. Baru pada tahun 1983 Februari, Sensei Freddy Joelianto mulai membuka do-jo IKK cabang Surabaya.

 

Sensei Freddy Joelianto sadar bahwa untuk mengembangkan Kyokushin Karate diperlukan fondasi yang kokoh yaitu kader-kader yang handal. Maka ketika memimpin IKK Jawa Timur antara lain : Agus Prihanto, Idrus Alie Hasnie, Ferry Kristiawan, Bambang Giantoro, Gunawan Hartanto, Rudie CB., Hermandianto, Alex Farhand, Agus Yanto, Muhammad Ali dan lain-lain, melapis kader-kader yang lebih senior seperti Go Dhian Ing, Kan Mao Tjae, Sing Gun, Bambang Sutrisno, Tan Kian Siong, Nur Agustinus Sudjatmiko, Sandy Pratiwi Sudjatmiko, Sunnu Bagyo, dll.

 

Tahun 1983 Oktober, Sensei Freddy Joelianto memimpin team Kyokushin Jawa Timur yang terdiri dari: Agus Prihanto, Idrus Alie Hasni, Ferry Kristiawan dan Gunawan Sensei Freddy Joelianto mulai mencetak kader-kader Kyokushin potensial

Hartanto ke Kejuaraan Nasional Karate Full Body Contact IKK “Widodo Cup I” di Semarang, namun belum berhasil karena minimnya pengalaman tanding.

 

Tahun 1984 bulan Januari Sensei Freddy Joelianto bersama Sensei JB. Sujoto, Sukarno Djunaedi dan Guntopo mengikuti The 3rd World Open Karate Tournament di Tokyo-Jepang.

Maret 1984 Sensei Freddy Joelianto dipercaya menjadi Ketua Official Pertandingan pada Kejuaraan Daerah “Paku Alam Cup I” di Yogyakarta.

 

Tahun 1984 September, “The Second South East Asia Open Karate Tournament”, digelar di Jakarta, Sosai Masutatsu Oyama hadir bersama Shihan Makoto Nakamura(Juara Dunia 1979 dan 1984), dan dua orang Uchi Deshi : Takashi Yoshinaga dan Akiyoshi Matsui.

 

Pada Kejuraan ini Indonesia diwakili 4 orang atlet salah satunya adalah Idrus Al Hasnie wakil dari Jawa Timur murid Sensei Freddy Joelianto. Usai Kejuaraan, dilaksanakan penataran pelatih oleh Sosai Masutatsu Oyama, Sensei Freddy Joelianto mendapat promosi Dan III.

 

April 1985, Surabaya menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional Karate Full Body Contact IKK “Widodo Cup II”, Team IKK Jawa Timur dibawah Sensei Freddy Joelianto yang terdiri dari : Agus Prihanto, Ferry Kristiawan, Idrus Alie Hasnie, Tiono S.B. Gunawan Hartanto, Muhammad Ali (Surabaya), Muhammad Moffan, Tri Satmiko (Madiun), Go Hong Hong (Kediri), berhasil meraih juara umum!

Gagasan Freddy Joelianto mencetak kader-kader yang handal terbukti ampuh dan mulai berbuah, perlahan tapi pasti IKK Jawa Timur yang dipimpinnya mulai menapak kepuncak!

 

November 1985 Kejuaraan Daerah Jateng-DIY IKK “Paku Alam Cup II” di gelar di Yogyakarta, Team Kyokushin Jawa Timur dibawah Sensei Freddy Joelianto menurunkan Agus Prihanto (Surabaya) di kelas bebas, Muhammad Moffan (Madiun), Go Hong-Hong (Kediri), The Bun U dan Johny Angga (Surabaya) di kelas -60 Kg, dan mereka meraih juara umum!

 

Maret 1986 Pengda IKK Jawa Timur menyelenggarakan Invitasi Nasional Kyokushin Karate “Piala Bhakti Kyokushin” di Surabaya, dan sekali lagi team IKK Jawa Timur meraih Juara umum!

 

Dibawah kepemimpinan Sensei Freddy Joelianto, IKK Jawa Timur berkembang pesat, berhasil membuka 9 cabang baru, antara lain : Tulungagung, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, Blitar, Trenggalek, Jombang, Ngawi, melengkapi cabang yang telah ada sebelumnya yakni Surabaya, Kediri dan Madiun sehingga jumlah cabang keseluruhannya 12 Cabang, dan menjadi Pengda dengan cabang terbanyak di Indonesia pada saat itu.

 

Sensei Freddy Joelianto bukan hanya piawai mencetak kader-kader atlet dan pelatih Kyokushin, tetapi juga kader-kader dibidang organisasi. Terbukti salah satu muridnya Agus Prihanto, terpilih menjadi Pengurus FORKI Pengda Jawa Timur Seksi Perwasitan periode 1984-1988. Idrus Alie Hasnie dan Bambang Giantoro, yang juga murid Sensei Freddy Joelianto terpilih menjadi Pengurus Daerah IKK Jawa Timur Periode 1985-1989.

 

Tahun 1989 murid-murid Sensei Freddy Joelianto seperti : Agus Prihanto, Rudie CB, Ferry Kristiawan dan Yudi Hartono terpilih menjadi Pengurus Daerah IKK Jawa Timur Periode 1989-1993. Saat terpilih Agus Prihanto(Ketua Umum) baru berusia 31 tahun, Rudie CB(Wakil Ketua) baru berusia 33 tahun, Yudi Hartono (Sekretaris Umum) baru berusia 22 tahun, Ferry Kristiawan(Sekretaris I) baru berusia 24 tahun. Mereka merupakan susunan Pengurus Daerah dengan rata-rata usia termuda pada masa itu. Ini sekaligus membuktikan kepiawaian Sensei Freddy Joelianto mencetak kader-kader pengurus organisasi disamping kader-kader atlet.

 

Tahun 1992 Sensei Freddy Joelianto secara mengejutkan menyatakan mengundurkan diri dari Indonesia Karate-do Kyokushinkai (IKK) pimpinan Sensei JB. Sujoto. Hal ini tentu saja sangat disayangkan oleh murid-murid utamanya, Agus Prihanto secara pribadi bahkan memohon kepada Sensei Freddy untuk membatalkan pengunduran diri beliau, karena murid-muridnya yang masih muda tentu sangat membutuhkan bimbingan dan arahan Sensei Freddy Joelianto. Meskipun Sensei Freddy Joelianto tidak bergeming sedikitpun tentang keputusannya mengundurkan diri dari Karate, tetapi beliau tidak kuasa menolak permohonan Agus Prihanto salah satu murid utamanya untuk meluangkan waktu dalam memberikan nasihat, bimbingan dan arahan perihal Kyokushin Karate.

 

Akhirnya dengan berat hati murid-murid utama Sensei Freddy Joelianto menghormati keputusan yang telah diambil oleh guru tercinta mereka. Namun para murid utama Sensei Freddy Joelianto tidak pernah mengumumkan perihal pengunduran diri Sensei Freddy Joelianto kepada para murid yang lain, ini dimaksudkan untuk menjaga motivasi berlatih para murid beliau.

 

Sejak tahun 2000 Sensei Freddy Joelianto menderita sakit komplikasi, tetapi beliau berpesan kepada murid-murid utamanya untuk tidak menyampaikan perihal sakit beliau tersebut terhadap murid-muridnya, agar tidak mempengaruhi semangat berlatih mereka.

 

Tahun 2008 Sensei Freddy Joelianto figur pelatih Kyokushin yang kharismatik dan kreatif ini meninggal dunia, hanya kerabat dekat dan beberapa murid utamanya, antara lain Agus Prihanto, Rudie CB. dan Ferry Kristiawan yang menghadiri pemakamannya.

 

SHIHAN AGUS PRIHANTO

PENDIRI KYOKUSHIN ACADEMY INDONESIA

 

 

1970 masuk SMP Agus disukai guru olahraganya, dan mendapat nilai tinggi pada cabang atletik dan senam lantai, tetapi ia lebih tertarik dan keranjingan pada senam lantai sehingga ia mulai piawai melakukan salto, kontra salto dan gerakan-gerakan sulit lainnya.

1974 masuk SMA, Agus tumbuh menjadi remaja yang atraktif, menyukai aktifitas yang menantang seperti mendaki gunung dan beladiri. Ia terpilih menjadi atlet senam lantai dan atletik di SMAnya bahkan dipercaya oleh guru olahraganya untuk melatih senam siswa SD dan SMP disekolah yang sama. Ia juga membentuk grup musik folk-song dan kelompok pecinta alam, aktif dalam kegiatan teater dan sanggar lukis di sekolahnya.

 

Tahun 1958 tanggal 20 Agustus di kota Malang-Jawa Timur, Agus Prihanto dilahirkan sebagai anak kedua (anak laki-laki pertama) dari delapan bersaudara pasangan suami-isteri M.J. Zakaria (alm/ayahanda) seorang anggota TNI-AU dan Yulifah (alm/ibunda).

 

Sebagai putera anggota TNI, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan didikan disiplin ala militer ketat dan keras yang diterapkan ayahnya, yang membentuk karakternya.

 

Kegemarannya pada olahraga dipengaruhi ayahnya yang anggota team sepakbola dan bola basket kesatuannya di TNI-AU. Bakat seni mengalir dari ibunya yang piawai menari tarian tradisional dan gemar menyanyi.

 

Tahun 1962, mengikuti orang tua di pindah tugaskan ke kota Bandung.

 

Mengenal beladiri diusianya ke 6 ketika ia mulai belajar mengaji di masjid dekat rumahnya, ustadznya selalu mengajarkan beladiri tradisional usai belajar mengaji, sejak itu ia keranjingan berlatih beladiri. 

1968 pindah ke Surabaya mengikuti orangtua angkatnya yang kebetulan menjadi pejabat teras TNI-AL Kodamar V di Surabaya.

 

1970 masuk SMP Agus disukai guru olahraganya, dan mendapat nilai tinggi pada cabang atletik dan senam lantai, tetapi ia lebih tertarik dan keranjingan pada senam lantai sehingga ia mulai piawai melakukan salto, kontra salto dan gerakan-gerakan sulit lainnya.

1974 masuk SMA, Agus tumbuh menjadi remaja yang atraktif, menyukai aktifitas yang menantang seperti mendaki gunung dan beladiri. Ia terpilih menjadi atlet senam lantai dan atletik di SMAnya bahkan dipercaya oleh guru olahraganya untuk melatih senam siswa SD dan SMP disekolah yang sama. Ia juga membentuk grup musik folk-song dan kelompok pecinta alam, aktif dalam kegiatan teater dan sanggar lukis di sekolahnya.

Kemudian ia lebih intens berlatih beladiri tradisional Indonesia, karena kelenturan dan kekuatan fisiknya serta kecepatannya menangkap dan memperagakan gerakan-gerakan beladiri yang sulit sekalipun, sehingga tak lama ia dikukuhkan menjadi asisten pelatih. Tetapi yang paling disukai adalah latihan “sabung” yaitu latihan pertarungan dengan lawan latih tanding. Bahkan untuk menyalurkan hasratnya yang menggebu dalam bertarung, ia secara rutin paling sedikit 2 (dua) kali dalam seminggu mengundang beberapa teman sebayanya dari berbagai aliran beladiri untuk melakukan latih-tanding dihalaman belakang rumahnya yang luas.

 

Tetapi penggunaan body protector pada pertarungan beladiri tradisional Indonesia kurang memuaskannya, ia menginginkan beladiri yang lebih keras dan menantang. Ia beralih ke beladiri impor asal Korea, setahun kemudian mencoba beladiri asal Jepang tapi kurang memuaskannya karena memakai body protector. Setahun kemudian ia beralih ke Karate aliran Shotokan (No-Contact), karena tidak memakai body protector, namun ini pun kurang memuaskannya karena dalam perkelahiannya, ternyata pukulan dan tendangan tidak benar-benar boleh mengenai lawan. Agus yang selalu resah, gelisah dan tak pernah puas, ia terus mencari dan mencari beladiri lain yang menurutnya sesuai dengan keinginannya: keras, mengandalkan fisik dan semangat.

 

1980 Agus beralih ke beladiri tradisional tenaga dalam terkemuka di Indonesia, setelah 10 hari digembleng, pada tes pemecahan benda-benda keras, ia menduduki ranking 1 dari sekitar 40 peserta, tak lama ia terpilih menjadi asisten pelatih. Namun Agus yang tak pernah puas ini terus mencari beladiri yang benar-benar keras, hingga pada awal tahun 1983 ia mengundurkan diri dari perguruan beladiri tradisional ini, karena tertarik pada beladiri lain : Kyokushin Karate.

 

1983

 

1984

 

1985

 

1986

 

1987

 

1988

 

1989

 

1992 Juli, dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Pertandingan & Perwasitan pada Kejuaraan Daerah Karate Full Body Contact IKK Jatim dalam rangka Dies Natalis Universitas Darul Ulum Jombang. Cabang Surabaya yang dilatihnya meraih juara umum. Yudita Agus Priambodo (Untag/Juara 1 kelas +60Kg) dan Aris Yudianto(ITS/Juara 1 kelas-60 Kg), Budi Utomo (Untag/Juara 2 kelas -60Kg).

 

1993, Juli membuka dan melatih do-jo THR SURABAYA MALL, Jl. Kusuma Bangsa Surabaya.

 

1994 Oktober, dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Pertandingan & Perwasitan pada Kejuaraan Daerah Karate Full Body Contact IKK Jatim di Madiun. Cabang Surabaya dilatihnya kembali meraih juara umum. Otok Puguh W.(ITS/Juara 1 kelas +60Kg), Nyoto Sudibyo(ITS/Juara1 kelas-60Kg), Sutikno (ITS/Juara2 kelas-60kg), Donny Rahadi (Untag/ Juara3 kelas-60Kg)

 

1995

1996

1998 Oktober, membuka dan melatih do-jo JAJAR TUNGGAL, Wiyung-Surabaya.

1999 Agustus, membuka dan melatih do-jo GRAND TRAWAS HOTEL & ESTATE, Trawas-Mojokerto.

2001

2003 Juli, mendapat promosi Dan IV Kyokushin dikukuhkan oleh Shihan MS. Dadang UB. pada Black-Belt Course IKO Kyokushinkaikan Indonesia di Ciloto-Jabar.

2004

2006

 

2007

 

2008 Maret, membuka dan melatih do-jo SANGGAR PRAMUKA, Jl. Karah Agung 49 Surabaya.

 

2009 Januari, membuka dan melatih do-jo FIT&SHAPE STUDIO - Perumahan Pratama, Jl. Babatan Pratama Wiyung-Surabaya.

 

2011 30 Desember, menjadi Wasit Utama Kejurnas Karate Full Body Contact “MENPORA CUP” di Banjar Baru Kalimantan Selatan. Dua muridnya Rizky Xyz Lazuardi (putera kedua Sensei Agus Prihanto) keluar sebagai Juara 1 Kumite Putera kelas -65Kg, Debora Amanda Juara 2 Kumite Puteri kelas-55Kg.

 

2012